Berita‎ > ‎

Rapat Koordinasi Zakat Nasional (Rakornas) 2017 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta dibuka oleh Wapres

diposting pada tanggal 5 Okt 2017 14.53 oleh Baznas Batam   [ diperbarui5 Okt 2017 16.18 ]


BUSINESS UPDATE - Perkembangan zaman telah mengubah cara-cara membayar zakat. Tidak cukup waktu lagi untuk mengantre dan lain sebagainya. BAZNAS sudah melakukan inovasi seperti bayar zakat di Istana. Pembayaran zakat bisa dilakukan dengan teknologi. Hal ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Rapat Koordinasi Zakat Nasional (Rakornas) 2017 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta . 

Dituturkan Wapres, yang terpenting adalah meningkatkan muzaki. "Dalam banyak angka statistik, satu persen orang Indonesia menguasai aset nasional dan banyak yang tidak bayar zakat. Bagaimana cara meningkatkan jumlah pembayar zakat, bukan hanya dengan membacakan ayat. Jangan memaksa ayam bertelur, tapi bagaimana caranya memperbanyak ayam agar telurnya juga semakin banyak," ucapnya.

Wapres JK mengapresiasi program BAZNAS. "Ada program membantu usaha kecil, itu kita apresiasi. Pemetaan-pemetaan penting tapi yang paling penting adalah kepercayaan. Harus ada keterbukaan. Apa yang dilakukan BAZNAS harus diketahui masyarakat," katanya.

Rakornas dihadiri  559 peserta dari BAZNAS, BAZNAS provinsi, BAZNAS kabupaten/kota, kementerian agama provinsi dan kabupaten/kota, perwakilan pemerintah daerah serta lembaga amil zakat (LAZ).Rakornas BAZNAS 2017 akan berlangsung selama tiga hari hingga Jumat (6/10). Turut hadir dalam acara tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua BAZNAS Bambang Sudibyo mengatakan, rakornas tahunan ini bertujuan mendorong peningkatan koordinasi pengelolaan zakat nasional untuk mencapai kemajuan gerakan zakat yang semakin kuat dan unggul. Untuk mendukung tujuan tersebut, diambil tema “Pengarusutamaan Zakat, Infak, Sedekah, dalam Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia, dan Pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals).”       
“Tahun 2017 pencapaian BAZNAS telah signifikan dalam berbagai bidang, antara lain sejak Bulan November 2016 telah dilaksanakannya UU No 23/2011 Tentang Pengelolaan Zakat secara penuh, selepas masa transisi selama 5 tahun yang ditetapkan UU,” kata Bambang.
Hal itu dibuktikan dengan telah berdirinya BAZNAS, 34 BAZNAS Provinsi dan 514 BAZNAS Kabupaten/Kota selama periode 2016-2017. Selain itu, BAZNAS saat ini makin dikenal sebagai lembaga negara dalam melayani masyarakat melakukan zakat, infak, sedekah, dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) serta Corporate Sosial Responsibility (CSR). 
BAZNAS juga mencatat Pengumpulan Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) tahun 2016 sebesar Rp5,12 triliun. Jumlah ini meningkat pesat sebesar 39,5 pe

Comments