BULETIN

Berisikan artikel-artikel yang diterbitkan dalam Buletin Baznas Kota Batam.

MUHASABAH, LANGKAH MENGGAPAI SUKSES

diposting pada tanggal 24 Des 2017 10.04 oleh Baznas Batam

MUHASABAH, LANGKAH MENGGAPAI SUKSES
Oleh: Drs. Hamzah Johan ( Waka I Baznas Kota Batam)


A.Pendahuluan
1.Pengertian Muhasabah
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba – yahsabu - hisab. Pada kamus al-Ma’any ‘Araby Indunisy, secara etimologis makna Muhasabah adalah : “laporan, pembukuan, perhitungan, akuntansi”, pada kamus KBBI diterjemahkan menjadi “Introspeksi”. Dalam terminologi syar’i, definisi muhasabah adalah “Suatu upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya untuk menjadika diri lebih baik” . 
2.Pengertian Sukses
Dalam kamus KBBI secara etimologis “Sukses” diartikan “Berhasil, beruntung”, sedangkan dalam konsep Islam  makna sukses adalah mencapai “Kebahagiaan di dunia dan diakhirat”. Jadi orang yang sukses itu adalah orang yang bahagia di dunia dan akhirat.

B.Dalil-dalil Muhasabah

1. “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Isra’:12)
2. “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan .” (QS: Yunus:5)
3. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS.al-Hasyr:18). 
4. “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah."...Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khottob dia berkata: hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.."(Sunan at-Tirmdzi, HN:2383).

Kedua ayat tersebut diatas (QS. Al-Isra’:12 dan Yunus:5) cenderung kepada  makna muhasabah waktu, yakni menjadikan perubahan siang dan malam, pergerakan matahari dan bulan sebagai tanda waktu perhitungan tahun sekaligus mengingatkan umur yang semakin bertambah sebagai evaluasi hidup begitu cepat menuju titik terakhir di dunia yang disebut dengan kematian yang semakin dekat. Sedangkan QS. Al-Hasyr ayat 18 dan Hadits pada Sunan at-Tirmdzi, HN:2383 tsb , cenderung kepada makna muhasabah selain aspek waktu, seperti aspek 'aqidah, ibadah, mua'amah, akhkaq dsb.

C.MANFAAT MUHASABAH 

Ada beberapa manfaat muhasabah:

1.MENGETAHUI ‘AIB DAN KEKURANGAN DIRI 
Dengan bermuhasabah diri, maka setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri, baik itu dalam hal amalan ibadah maupun kegiatan kemanusiaan. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki kekurangan dirinya tersebut.

2.MENINGKATKAN  IBADAH DAN MEMPERBAIKI DIRI 
Dalam hal ibadah, dengan muhasabah, kita akan semakin tahu akan hak kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah dan terus memperbaiki diri. Dan dengan mengetahui hakikat ibadah bahwasannya manfaat ibadah adalah demi kepentingan diri kita sendiri, bukan demi kepentingan Allah Ta'ala. Dengan evaluasi dan koreksi seperti itu mencambuk semangat kita memperbaiki diri dan beribadah dengan sungguh-sungguh.

3.MENGETAHUI PERTANGUNGJAWABAN DIRI 
Dengan muhasabah manusia akan mengetahui perbuatan-perbuatannya yang selama ini dia lakukan, dan ia akan tahu bahwa Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu yang ia kerjakan, baik itu kecil maupun besar , zhohir maupun bathin semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

4.MENGETAHUI PENGENDALIAN HAWA NAFSU 
Mengetahui pengendalian hawa nafsu dan mewaspadainya. Dan senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala hal yang berbau kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat kelak.

5.MENUMBUHKAN KECINTAAN KEPADA ALLAH DAN KETENANGAN JIWA 
Ketika seseorang mengetahui ‘aib dirinya, pertanggunganjawaban dirinya kepada Allah kemudian dia bertaubat dan meningkatkan amal shaleh maka itu tanda kecintaannya kepada Allah yang pada gilirannya akan membawa ketenangan dalam jiwanya.

6.MENUMBUHKAN PENGHARGAAN TERHADAP WAKTU

Jika selama ini seseorang dengan waktunya dilalaikan oleh judi, permainan, dan perbuatan sia-sia lainnya, maka dengan bermuhasabah waktu itu akan menjadi sangat berharga.

D.CARA BERMUHASABAH

  Ada beberapa langkah bermuhasabah :

1.MENGINGAT-INGAT DOSA-DOSA TERDAHULU 
"Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika ia bangga dengan ilmunya, perawi berkata: Masruq berkata: 'Hendaknya seseorang memiliki tempat khusus yang ia pergunakan untuk menyendiri dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah' ".(Sunan Darimi HN: 316).

2.MENGINGAT-INGAT KEMATIAN
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat Al-Jumu'ah, Ayat 8).
“Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai di Madinah, Abu Bakar dan Bilal menderita sakit demam. Dan Abu Bakar bila merasakan demam yang panas bersya'ir; Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.(HR. Bukhari HN:1756)

3.MENGINGAT-INGAT NI’MAT ALLAH 
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah:152)

4.MENGINGAT-INGAN PEMBERIAN ORANG LAIN DAN MENDO’AKAN MEREKA
“Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Anas berkata, para sahabat Muhajirin berkata, wahai rasulullah, kami tidak pernah melihat suatu kaum seperti yang kita datangi ini, mereka sangat istimewa pertolongannya dikala harta kita minim, dan sangat luar biasa pengorbanannya dikala harta kita banyak, mereka mencukupi kebutuhan kami dan mengikutsertakan kami saat mereka senang, sehingga kami menyangka bahwa mereka akan memborong semua pahala. (rasulullah Shallallu'alaihi wasallam) menjawab, "Tidak, selama kalian berterima kasih kepada mereka dan berdoa kepada Allah 'azza wajalla untuk mereka". (Musnad Ahmad HN:12602)

5.BERTAUBAT DAN BERAMAL SHALEH
"kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (Surat Al-Baqarah, Ayat 160) “kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (QS. Maryam:60).

E.KESIMPULAN

1.Bermuhasabah itu adalah mengevaluasi diri, terkait waktu, aqidah, ibadah, muamalah dan lain sebagainya.
2.Bermuhasabah itu melahirkan peningkatan capaian dari yang buruk kepada yang baik dan dari yang baik kepada yang lebih baik.
3.Bermuhasabah itu mendatangkan manfaat yang banyak, namun pada hakikatnya  kemanfaatan yang paling tinggi adalah kesuksesan (kebahagiaan). Jika benar-benar bermuhasabah maka kebahagian di dunia dan diakhirat akan tercapai. Dengan kata lain bahwa orang yang sukses itu adalah orang yang bahagia di dunia dan di akhirat dengan salah satu  jalannya adalah  bermuhasabah.

MENGELOLA kebersamaan dalam KEBAIKAN

diposting pada tanggal 8 Nov 2017 01.49 oleh Baznas Batam   [ diperbarui8 Nov 2017 02.00 ]

MENGELOLA kebersamaan dalam KEBAIKAN


Oleh: Maktub Rowi, S.Pd.I 
(Kasi Penghimpunan Baznas Kota Batam)

Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk selalu berbuat kebaikan dan kebenaran, kedua hal tersebut sangatlah penting dalam kehidupan untuk menunjang tujuan hidup yaitu mencapai kebahagiaan yang hakiki dan juga kebahagiaan dunia. oleh karenanya dituntut juga kepada kita semua bagaimana mengelola sebuah kebenaran dan kebaikan agar terus terjaga dan terpelihara serta tidak mudah dikalahkan oleh sebuah kebathilan dan kedzaliman

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah SWT menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat sosialnya. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan seterusnya. Demikian pula Allah SWT menciptakan manusia dengan keahlian dan kepandaian yang berbeda-beda pula. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin yang menjadi pembantunya, pegawainya, sopirnya, dan seterusnya. Demikian pula orang miskin tidak dapat hidup tanpa orang kaya yang mempekerjakan dan mengupahnya. Demikianlah seterusnya. Allah SWT berfirman yang artinya : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32). 

Kehidupan bermasyarakat sendiri tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali dengan adanya seorang pemimpin dan kebersamaan. Oleh karena itulah, Islam begitu menekankan agar kaum muslimin bersatu dalam jamaah di bawah satu penguasa. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menopang sebagian yang lain. Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar ra bahwa dia berkata: “Rasulullah saw berkhutbah di hadapan kami. Di antaranya beliau berkata: “…Wajib atas kalian untuk bersama dengan al-jamaah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga maka hendaklah dia bersama jamaah. Barangsiapa yang kebaikan-kebaikannya menggembirakan dia dan kejelekan-kejelekannya menyusahkan dia, maka dia adalah seorang mukmin.” Al Hadist.

Sungguh indah kebersamaan dalam jamaah dan sungguh nikmat hidup dalam keteraturan di bawah satu kepeminpinan. Sebagaimana dikatakan: Al-Jama’atu rahmah wal furqatu ‘adzab (kebersamaan adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab). Oleh karena itulah Allah l melarang perpecahan dalam beberapa ayatnya. Di antaranya Allah SWT berfirman artinya :”..…Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32).  Demikian pula Allah SWT berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103)

Di antara tafsir “tali Allah” selain Islam, Al-Qur`an dan As-Sunnah, adalah jamaah kaum muslimin dan penguasanya. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud z bahwa ia berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk taat dan tetap bersama jamaah, karena itulah tali Allah yang sangat kuat. Ketahuilah! Apa yang tidak kalian sukai bersama jamaah lebih baik daripada apa yang kalian sukai bersama perpecahan.” (Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri t, hal. 23-24, cet. Darus Salam, Riyadh cet. I)

Tidak ada pertentangan antara tafsir tersebut dengan tafsir yang lainnya. Karena ayat tersebut memerintahkan kaum muslimin agar berpegang dengan ajaran Islam, dengan dasar Al-Qur`an dan As-Sunnah serta tetap bersama jamaah kaum muslimin dan peminpinnya agar tidak berpecah belah. Jika keluar dari salah satunya maka akan terjatuh dalam perpecahan. Sehingga, semuanya sama-sama merupakan tali Allah yang sangat kuat, yang mengikat mereka dalam kebersamaan.

Nikmatnya kebersamaan dalam satu jamaah dengan satu kepemimpinan telah dirasakan sejak zaman para sahabat dengan Rasulullah saw sebagai pemimpinnya. Maka ketika Rasulullah saw wafat, para sahabat segera membicarakan siapa khalifah yang akan menjadi pemimpin sepeninggal Rasulullah saw. Bukan karena mereka adalah para politikus yang berambisi menjadi penguasa – seperti yang dikatakan oleh kaum Syi’ah– tetapi karena mereka faham betul betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam kebersamaan. Tentunya kepemimpinan tanpa ketaatan adalah sesuatu yang sia-sia. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan untuk menaati seorang yang telah Allah  takdirkan sebagai penguasa.

Allah SWT berfirman artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguasa di kalangan kalian.” (An-Nisa`: 59)
Rasulullah saw pun memerintahkan untuk menaati penguasa. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: ”Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasanya dalam apa yang dia sukai dan yang tidak dia sukai, kecuali jika dia diperintah untuk bermaksiat. Jika dia diperintah untuk bermaksiat maka tidak wajib baginya untuk mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam AL Qur’an surat Al Kahfi ayat 28, Allah bahkan mentaujih Rasulullah SAW agar bersabar dalam kebersamaan dengan orang-orang yang baik. Kembali Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa dengan siapapun kita menjalin kebersamaan, tentu untuk tujuan yang baik, maka tetap harus dikelola. Rasulullah SAW yang bersama orang baik saja diperintahkan untuk bersabar, tentu di masyarakat luas saat ini yang heterogen perangainya kita harus bersabar pula.

Untuk mengelola kebersamaan agar kita dapat menjadi jalan hidayah bagi orang-orang yang bersama kita maka beberapa hal utama yang harus kita jalankan adalah :
Pertama, perbaikan diri dimulai dengan menyadari bahwa datangnya hidayah hanya dari Allah Azza wa Jala semata dan kita hanya menjadi perantara mengalirnya hidayah Allah tersebut kepada orang lain. Dengan begitu maka semangat yang mendasari kita dalam mengelola sebuah kebersamaan menjadi semangat yang ikhlas.
Kedua, setelah kita benahi semangat kita maka kita benahi akhlak dan tambah amalan ibadah kita. Karena pada dasarnya, keteladanan adalah hal yang paling diperhatikan oleh masyarakat yang membuat mereka merubah dirinya sendiri tanpa paksaan dengan mencontoh dan mengikutinya. 
Ketiga, agar tidak tersesat di tengah mengelola kebersamaan maka haruslah selalu berkaca dan mengikuti para Nabi dan Rasul dalam bertindak. Karena sudah diterangkan dalam Al Qur’an surat AL Ahzab ayat 21 bahwasanya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan yang baik bagi kita.
Keempat, merefleksi diri agar kita senantiasa tahu kesalahan baik yang sudah kita ketahui maupun yang diketahui orang lain namun belum kita ketahui. Sehingga lewat refleksi kita dapat perbaiki diri kita dan kita mampu menjadi sarana hidayah Allah bagi orang lain di sekitar kita.

Terakhir, setelah menjadi pribadi yang shalih maka mulailah kita saling nasihat menasihati dalam kebenaran untuk menjadikan hidayah Allah itu mengalir pada diri kita dan pada orang-orang yang bersama kita. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap insan untuk membawa perbaikan di masyarakat. Oleh karena itu mari bersama-sama bergerak dan memulai langkah perbaikan dari diri masing-masing. Jika tidak, maka kita termasuk orang yang merugi. Allah berfirman yang artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3).

WALLAHU A’LAM BISSHAWAB

KESALEHAN SOSIAL

diposting pada tanggal 19 Okt 2017 20.10 oleh Baznas Batam

KESALEHAN SOSIAL



Ahmadin, SE, MM, M.SI


Sifat kesalehan yang harus ditunjukkan oleh seorang muslim adalah karakter Iman yang selalu harus menjadi performance kuat dari seorang muslim. Lihatlah bagaimana orang-orang lain begitu bangga dengan agama dan keimanannya bahkan sampai ditunjukkan pada khalayak ramai, namun apakah kita memiliki keberanian seperti itu? Inilah letak dan perbedaan Islam dengan Iman yang dimiliki harus disertai dengan kesalehan dalam mengaplikasikannya. Kesalehan sosial seseorang harus ditunjukkan dengan aplikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika seseorang muslim dituntut untuk mengaplikasikan kesalehan tersebut, maka tanpa diminta harus muncul keberanian untuk menunjukkannya, bukan karena ingin dipuja ataupun lainnya tapi dorongan Iman yang menjadi dasarnya. Memahami konteks kesalehan sosial seharusnya dimulai dari kesalehan pribadi, karena banyak orang berkata terkadang saleh secara pribadi namun tidak atau kurang secara sosial. Mementingkan hablum minallah sementara tidak disertai dengan hablum minan nas.

“Kesalehan sosial” merujuk pada pribadi (prilaku) seseorang yang tentunya sangat peduli dengan nilai-nilai islam dan sosial. Contohnya concern terhadap masalah-masalah umat, memperhatikan dan menghargai hak sesama, mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, memiliki empati, mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Selain itu kesalehan sosial juga ditandai dengan seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya, sehingga keadaan orang lain dapat memberikan kenyamanan, kedamaian dalam berinteraksi dan bekerjasama serta bergaul dengannya.

Tidak ada tawar menawar terhadap bentuk dari kesalehan sosial maupun kesalehan pribadi karena keduanya memiliki kepastian berhubungan dengan sang Khalik dan Mahluk maka diperlukan totalitas dalam menjalankannya. Dampak dari kesalehan sosial memberikan kontribusi langsung terhadap lingkungan di masyarakat. Zakat sesungguhnya adalah manifestasi dari kesalehan pribadi yang muncul untuk diaplikasikan ke dalam kesalehan sosial. Begitu banyak manfaat yang bisa diambil dari kesalehan sosial dengan berzakat. Karena zakat adalah instrumen yang paling berarti didalam kemanfaatannya. Orang yang berzakat menunjukkan identitas pribadi yang memahami konteks sosial sekaligus dituangkan (diaplikasikan) ke dalam hubungan sesama manusia. Karena itu konteks kesalehan sosial seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya saja, seperti shalat dan puasa, tetapi juga dapat dilihat dari output sosialnya berupa nilai-nilai dan prilaku sosial kepada sesama dan mau membantu orang lain.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw mendengar tentang berita seorang yang rajin ibadahnya, tetapi tidak pandai menjaga lisannya menyakiti saudaranya, lalu nabi dengan singkat berkata, “bahwa orang tersebut di neraka” ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah pribadi seseorang belum cukup menjadi jaminan tetapi harus dibarengi juga dengan kesalehan sosial. Dalam hadits lain diceritakan, bahwa seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Nabi. Kemudian Nabi bertanya, “Mengapa ia kau sebut sangat saleh?” tanya Nabi. Sahabat itu menjawab, “Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah shalat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.”  “Lho, lalu siapa yang memberinya makan dan minum?” tanya Nabi lagi. “Kakaknya,” sahut sahabat tersebut. Lalu kata Nabi, “Kakaknya itulah yang layak disebut saleh.” Sahabat itu diam.

Begitulah bahwa ukuran kesalehan begitu jelas terbentuk, karena kesalehan tidak dilihat dari ketaatan dan kesungguhan seseorang menjalankan ibadah secara pribadi saja, tetapi kesalehan juga dilihat dari dampak konkrit dalam kehidupan di masyarakat. Kesalehan terlihat dari tindakan dan nyata seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia, artinya bahwa tidak hanya rajib ibadah tetapi berperilaku baik kepada sesama sebagai manifestasi dari ibadahnya itu. Wallahu’alam

Nilai-Nilai Kehidupan Dalam Ritual Qurban

diposting pada tanggal 27 Agu 2017 18.49 oleh Baznas Batam


Nilai-Nilai Kehidupan Dalam Ritual Qurban
Oleh: Drs. Hamzah Johan (Waka I Baznas Kota Batam)

A. PENDAHULUAN
Qurban menurut syariat Islam adalah sesuatu yang disembelih dari binatang ternak yang berupa unta, sapi dan kambing untuk mendekatkan diri kepada Allah yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan Hari Tasyrik. Hari Tasyrik adalah hari ke 11, 12, dan 13 Dzulhijah.
Meskipun terdapat perbedaan dikalangan ulama dalam menetapkan hukum berqurban, yakni ada yang menetapkan “sunnah mu’akkadah” dan ada pula yang menetapkannya “wajib”, namun yang pasti Ibadah Qurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits;
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. Qs.al-Kautsar: 1-3
Diriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda: “Barangsiapa yang memiliki keleluasaan untuk qurban, tapi tidak melakukannya, maka jangan mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad (164-241 H), Ibn Majah (207-275H), al-Daruquthni (305-385 H) dan  al-Hakim (321-405 H).

B. NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM RITUAL QURBAN
Setiap ibadah dalam Islam memiliki nilai-nilai tersendiri, ada yang bernilai kehidupan ilahiyah yakni “hablum minallah”(hubungan dengan Allah) dan yang bernilai kehidupan ijtima’iyah/sosial “hablum minannas” (hubungan dengan manusia) [QS.Ali Imran:112]. Pada ritual qurban melekat kedua nilai tersebut dengan rincian sebagai berikut:

1. Qurban Sebagai Nilai Hablum Minallah
Pada nilai hablum minallah, berqurban menjadi bukti keta'atan seorang hamba kepada Allah SWT. Hal ini dibuktikan oleh nabi Ibrahim AS yang berani mengorbankan anaknya (Ismail) demi menta'ati Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an;
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS Af-Fushshilat:102-107).

2. Qurban Sebagai Nilai Hablum Minannas
Pada nilai hablum minannas, berqurban merupakan nilai ijtima'iyah (sosial) atau juga disebut ibadah sosial. Perlu diketahui bahwa nilai ibadah sosial ini akan mendapat ganjaran 700 kali lipat, sebagamana disinyalir dalam Al-Qur'an:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)
Pada ayat (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261) ini, menjelaskan bahwa menginfakkan harta merupakan bentuk ibadah sosial. Harta bisa dari jenis logam, uang, ternak dsb. Dan hewan qurban termasuk harta yang menjadi infak fi sabilillah yang bernilai ibadah sosial. 
Perlu dicatat bahwa Ibadah Sosial merupakan ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT.
Dalam Kitab Mukasyafatuul Qulub Karya Imam Al Ghazali, dinukilkan cerita Nabi Musa yang menanyakan Ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT;
Nabi Musa as : “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
Allah SWT: “SHOLAT ?...Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
DZIKIR ?... Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.
PUASA ?... Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri”.
Nabi Musa : “Lalu apa yang membuat Engkau senang Ya Allah ?”.
Allah SWT: “SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu.Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262).

C. KEPRIBADIAN HABLUM MINALLAH WA HABLUM MINANNAS

Seorang yang melakukan ibadah qurban memiliki kepribadian hablum minallah wa hablum minannas (hubungan baik dengan Allah dan manusia) disingkat menjadi Kepribadian Hablun. Kepribadian Hablun ini menjadi dambaan bagi setiap orang yang ingin bertaqwa. Namun ketaqwaan itu tidak hanya cukup dengan hubungan vertikal lalu mengabaikan hubungan horizontal, melainkan melakukan perpaduan antara kedua hubungan tersebut.
Dan untuk mencapai Kepribadian Hablun tidaklah mudah, melainkan melalui proses dan langkah-langkahnya, antara kain:

1. TA’LIMUL IBADAH
Yaitu memberikan ilmu-ilmu tentang ibadah qurban dari berbagai sumber rujukan yang mendorong kepada keinginan kuat untuk berqurban.
Dalam hal ini sangat diharapkan para guru agama dan penceramah maksimal menyampaikan Fiqih Qurban baik di sekolah-sekolah, rumah ibadah, kantor dsb; baik melalui medsos, media cetak, dll.

2. SENSITIVITAS SOSIAL
Yaitu memberikan gambaran tentang pentingnya bermasyarakat dan kepedulian sosial (sensitivitas sosial) dengan menunjukkan contoh-contoh keadaan para dhu'afa dan menceritakan dampak negatif jika diabaikan.
Sensitivitas sosial merupakan suatu kebutuhan yang hendaknya dikaji oleh serta diasah oleh setiap orang khususnya generasi pada era teknologi seperti sekarang ini yang menjadikan seseorang terlalu sibuk dengan gadgetnya sehingga kurang adanya kepekaan terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa wilayah pengakuan seseorang ditentukan oleh wilayah berfikirnya, atau selama kita masih mau menyediakan diri kita sendiri untuk memikirkan orang lain maka disanalah letak pengakuan diri kita akan terpatri, namun sebaliknya jika kita hanya memikirkan diri kita sendiri maka jangan harap orang lain mau memikirkan diri kita dan menjadikan bagian dalam kehidupannya, dan inilah substansi dari semangat kepedulian sosial (Social sensitivity) sebagai salah satu tangga mencapai kemenangan tertinggi. Dalam membangun sensitivitas sosial sebagaimana dikemukakan Akhamad Muwafiq Saleh dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Karakter dalam perspektif spiritual” terdapat 5 cara yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: (1) peka dan peduli, (2) bersikap empati terhadap oranglain, (3) jeli dan cermat, (4) memiliki semangat memberi, (5) Dzikir diri dan Dzikir sosial

3. LATIHAN QURBAN
Sejak dini anak-anak dilatih berqurban dengan ikut qurban patungan bersama teman-temannya di sekolah. Latihan seperti itu akan menanamkan sifat ingin berqurban dikemudian hari.
Di berbagai sekolah sekarang di Kota Batam diterapkan Latihan Qurban bagi murid atau wali murid yang belum mampu untuk berqurban seutuhnya. Hal ini akan berdampak positif, bukan hanya membentuk kepribadian hablun tapi juga meningkatkan potensi jumlah qurban dimasa mendatang yang pada gilirannya akan adanya pemerataan gizi masyarakat kecil dan peningkatan kesehatannya.

D. PENUTUP
1. Ibadah qurban melahirkan nilai-nilai kehidupan berupa nilai ketaqwaan dan nilai sosial
2. Ibadah qurban merupakan ibadah sosial yang sangat besar pahala dan manfaatnya.
3. Ibadah qurban membentuk kepribadian hablun (hablum minallah wa hablum minannas), baik hubungannya dengan Allah dan sesama manusia.
4. Untuk membentuk kepribadian hablun diperlukan langka-langah, antara lain ta'limul ibadah, sensitivitas sosial dan latihan qurban.
Wallahu a'lam.




Perspektif Qurban

diposting pada tanggal 23 Agu 2017 03.41 oleh Baznas Batam   [ diperbarui23 Agu 2017 03.47 ]

Perspektif Qurban
Oleh : Ir. Moch. Arief
Ketua BAZNAS kota Batam


Sebagai muslim, kita semua meyakini bahwa ajaran Islam itu tinggi dan sempurna, sebagaimana Rasulullah sampaikan Al Islamu yalu wa laa yula(alaihi). Sempurna dari semua sisinya, karena diturunkan oleh Dzat Sang Pembuat Syariat yang Maha Tinggi lagi Sempurna, Alloh SWT.

Demikian juga syariat qurban, tidaklah hanya sebatas penyembelihan hewan qurban (onta, sapi, kambing dan domba) dan dibagi-bagikan kepada karib kerabat serta fakir miskin di hari nahr dan tasyrik (4 hari di bulan Dzulhijjah). Ketinggian dan kesempurnaan qurban sebagai sebuah bentuk perintah, tampak dalam beberapa perspektif berikut :

Perspektif SEJARAH. Perintah qurban merupakan bentuk syariat Islam yang sudah ada semenjak manusia ada. Sebagaimana kisah putra-putra nabi Adam, Qabil dan Habil. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Aku pasti membunuhmu! Berkata Habil: Sesungguhnya Alloh hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS Al-Maaidah 27). Selanjutnya adalah qurban keluarga Ibrahim AS, saat beliau diperintahkan Alloh SWT untuk mengorbankan anaknya, Ismail AS. Disebutkan dalam surat As-Shaaffaat 102: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Kemudian qurban ditetapkan sebagai bagian dari Syariah Islam kepada Nabi Muhammad SAW. “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka (QS. Al-Hajj 34). Jadi qurban merupakan perintah kesejarahan yang telah ada mulai dari nabi Adam hingga Rasulullah SAW dan kita hingga hari akhir (qiyamat).

Perspektif IBADAH. Ritual qurban adalah simbol pengorbanan hamba kepada Alloh SWT, bentuk ketaatan kepada-Nya dan merupakan ibadah yang paling dicintai Alloh SWT di hari Nahr sebagaimana sabda Rasulullah dari Aisyah RA. Tidaklah anak Adam beramal di hari Nahr yang paling dicintai Alloh melebihi menumpahkan darah (berqurban). Qurban itu akan datang di hari Kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah akan cepat sampai di suatu tempat sebelum darah tersebut menetes ke bumi. Maka perbaikilah jiwa dengan berqurban. (HR. At-Tirmizi). Secara definisi qurban diartikan sebagai penyembelihan binatang ternak (onta, sapi, kambing dan domba) di hari-hari Nahr dengan niat mendekatkan diri (taqarruban) kepada Alloh dengan syarat-syarat tertentu. Mengenai hukumnya, menurut jumhur ulama adalah sunnah muaqqadah (sunnah yang sangat ditekankan) sedang menurut mazhab Abu Hanifah adalah wajib. Alloh SWT berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al-Kautsaar: 2). Demikian juga Rasulullah bersabda, “Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Hal ini menunjukkan, pentingnya ibadah qurban. Bagi seorang muslim atau keluarga muslim yang mampu dan memiliki kemudahan, dia sangat dianjurkan untuk berqurban. Kambing untuk satu orang, boleh juga untuk satu keluarga. Karena Rasulullah SAW menyembelih dua kambing, satu untuk beliau dan keluarganya dan satu lagi untuk beliau dan umatnya. Sedangkan unta dan sapi dapat digunakan untuk tujuh orang (al- hadist).
 
Perspektif SOSIAL. Solidaritas sosial sebagai watak syariat Islam juga tampak jelas pada ketentuan pembagian daging qurban, dimana karib kerabat, orang-orang yang tidak berkelapangan diberikan daging qurban, selain juga sebagiannya boleh untuk pe-qurban. “, Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur (QS Al-Hajj 36). Bahkan dalam hal pembagian disunnahkan dibagi tiga. Sepertiga untuk dimakan dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk tetangga dan teman, sepertiga yang lainnya untuk fakir miskin dan orang yang minta-minta. Ibnu Abbas menerangkan qurban Rasulullah SAW bersabda, Sepertiga untuk memberi makan keluarganya, sepertiga untuk para tetangga yang fakir miskin dan sepertiga untuk disedekahkan kepada yang meminta-minta (HR Abu Musa Al-Asfahani). Inilah solidaritas social dalam berqurban.

Perspektif EKONOMI. Dampak dari perintah qurban adalah penyediaan hewan qurban baik unta, sapi, kambing maupun domba. Di Batam saja diperkirakan tahun ini tidak kurang empat ribuan kambing atau domba serta tidak kurang seribuan sapi didatangkan untuk prosesi ibadah qurban. Perkiraan nilai kapitalisasinya diatas tiga puluhan milyar, hanya dalam 4 hari saja yaitu hari idhul adha di tambah 3 hari tasryrik. Keuntungan bersih dari bisnis pengadaan hewan qurban ini tidak kurang dari sepuluh milyar. Ini adalah kesempatan bagi kita kaum muslimin melakukan kebangkitan di bidang ekonomi. Insyaalloh. 


Perspektif NILAI (EDU-VALUES). Banyak nilai-nilai yang terkait dengan ajaran qurban ini agar memberikan maslahat dunia akhirat, diantaranya:
(a).  Kasih sayang. Sekalipun kepada binatang kita diperintahkan untuk menajamkan pisau agar tidak menyakiti binatang tersebut saat disembelih, tidak boleh mengasah pisau dihadapan hewan sembelihan. Merobohkan binatang saat akan disembelih tidak boleh dengan menyakitinya. Ini semua menandakan nilai kasih sayang. Kalau dengan binatang ternak Syariat Islam mengaturnya demikian detail, tentu kepada manusia lebih besar lagi. 
(b). Dermawan tidak kikir, bakhil.  Kikir adalah penyakit yang dibenci dan tercela. Sifat ini menjadikan manusia berupaya untuk selalu mewujudkan ambisinya, egois, cinta hidup di dunia dan suka menumpuk harta serta serakah. Syariat qurban mengajarkan kepada kita semua bahwa apa yang menjadi kecintaan kita terhadap harta benda haruslah tetap mengutamakan kecintaan kepada Alloh SWT.
(c) Kesyukuran. Qurban merupakan bentuk kesyukuran akan nimat Alloh SWT. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (QS. Ad-Dhuhaa : 11).
(d) Ketaqwaan. Qurban adalah bukti ketaqwaan kepada Alloh SWT. Sesungguhnya Alloh hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS Al-Maaidah 27). Karenanya binatang yang akan diqurbankan hendaknya yang paling baik, cukup umur dan tidak boleh cacat. Rasulullah SAW bersabda: “Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban: 1. Cacat matanya, 2. sakit, 3. pincang dan 4. kurus yang tidak berlemak lagi  (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallhualam bisshawab.

1-5 of 5