BULETIN‎ > ‎

MENGELOLA kebersamaan dalam KEBAIKAN

diposting pada tanggal 8 Nov 2017 01.49 oleh Baznas Batam   [ diperbarui8 Nov 2017 02.00 ]
MENGELOLA kebersamaan dalam KEBAIKAN


Oleh: Maktub Rowi, S.Pd.I 
(Kasi Penghimpunan Baznas Kota Batam)

Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk selalu berbuat kebaikan dan kebenaran, kedua hal tersebut sangatlah penting dalam kehidupan untuk menunjang tujuan hidup yaitu mencapai kebahagiaan yang hakiki dan juga kebahagiaan dunia. oleh karenanya dituntut juga kepada kita semua bagaimana mengelola sebuah kebenaran dan kebaikan agar terus terjaga dan terpelihara serta tidak mudah dikalahkan oleh sebuah kebathilan dan kedzaliman

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah SWT menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat sosialnya. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan seterusnya. Demikian pula Allah SWT menciptakan manusia dengan keahlian dan kepandaian yang berbeda-beda pula. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin yang menjadi pembantunya, pegawainya, sopirnya, dan seterusnya. Demikian pula orang miskin tidak dapat hidup tanpa orang kaya yang mempekerjakan dan mengupahnya. Demikianlah seterusnya. Allah SWT berfirman yang artinya : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32). 

Kehidupan bermasyarakat sendiri tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali dengan adanya seorang pemimpin dan kebersamaan. Oleh karena itulah, Islam begitu menekankan agar kaum muslimin bersatu dalam jamaah di bawah satu penguasa. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menopang sebagian yang lain. Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar ra bahwa dia berkata: “Rasulullah saw berkhutbah di hadapan kami. Di antaranya beliau berkata: “…Wajib atas kalian untuk bersama dengan al-jamaah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga maka hendaklah dia bersama jamaah. Barangsiapa yang kebaikan-kebaikannya menggembirakan dia dan kejelekan-kejelekannya menyusahkan dia, maka dia adalah seorang mukmin.” Al Hadist.

Sungguh indah kebersamaan dalam jamaah dan sungguh nikmat hidup dalam keteraturan di bawah satu kepeminpinan. Sebagaimana dikatakan: Al-Jama’atu rahmah wal furqatu ‘adzab (kebersamaan adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab). Oleh karena itulah Allah l melarang perpecahan dalam beberapa ayatnya. Di antaranya Allah SWT berfirman artinya :”..…Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32).  Demikian pula Allah SWT berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103)

Di antara tafsir “tali Allah” selain Islam, Al-Qur`an dan As-Sunnah, adalah jamaah kaum muslimin dan penguasanya. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud z bahwa ia berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk taat dan tetap bersama jamaah, karena itulah tali Allah yang sangat kuat. Ketahuilah! Apa yang tidak kalian sukai bersama jamaah lebih baik daripada apa yang kalian sukai bersama perpecahan.” (Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri t, hal. 23-24, cet. Darus Salam, Riyadh cet. I)

Tidak ada pertentangan antara tafsir tersebut dengan tafsir yang lainnya. Karena ayat tersebut memerintahkan kaum muslimin agar berpegang dengan ajaran Islam, dengan dasar Al-Qur`an dan As-Sunnah serta tetap bersama jamaah kaum muslimin dan peminpinnya agar tidak berpecah belah. Jika keluar dari salah satunya maka akan terjatuh dalam perpecahan. Sehingga, semuanya sama-sama merupakan tali Allah yang sangat kuat, yang mengikat mereka dalam kebersamaan.

Nikmatnya kebersamaan dalam satu jamaah dengan satu kepemimpinan telah dirasakan sejak zaman para sahabat dengan Rasulullah saw sebagai pemimpinnya. Maka ketika Rasulullah saw wafat, para sahabat segera membicarakan siapa khalifah yang akan menjadi pemimpin sepeninggal Rasulullah saw. Bukan karena mereka adalah para politikus yang berambisi menjadi penguasa – seperti yang dikatakan oleh kaum Syi’ah– tetapi karena mereka faham betul betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam kebersamaan. Tentunya kepemimpinan tanpa ketaatan adalah sesuatu yang sia-sia. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan untuk menaati seorang yang telah Allah  takdirkan sebagai penguasa.

Allah SWT berfirman artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguasa di kalangan kalian.” (An-Nisa`: 59)
Rasulullah saw pun memerintahkan untuk menaati penguasa. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: ”Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasanya dalam apa yang dia sukai dan yang tidak dia sukai, kecuali jika dia diperintah untuk bermaksiat. Jika dia diperintah untuk bermaksiat maka tidak wajib baginya untuk mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam AL Qur’an surat Al Kahfi ayat 28, Allah bahkan mentaujih Rasulullah SAW agar bersabar dalam kebersamaan dengan orang-orang yang baik. Kembali Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa dengan siapapun kita menjalin kebersamaan, tentu untuk tujuan yang baik, maka tetap harus dikelola. Rasulullah SAW yang bersama orang baik saja diperintahkan untuk bersabar, tentu di masyarakat luas saat ini yang heterogen perangainya kita harus bersabar pula.

Untuk mengelola kebersamaan agar kita dapat menjadi jalan hidayah bagi orang-orang yang bersama kita maka beberapa hal utama yang harus kita jalankan adalah :
Pertama, perbaikan diri dimulai dengan menyadari bahwa datangnya hidayah hanya dari Allah Azza wa Jala semata dan kita hanya menjadi perantara mengalirnya hidayah Allah tersebut kepada orang lain. Dengan begitu maka semangat yang mendasari kita dalam mengelola sebuah kebersamaan menjadi semangat yang ikhlas.
Kedua, setelah kita benahi semangat kita maka kita benahi akhlak dan tambah amalan ibadah kita. Karena pada dasarnya, keteladanan adalah hal yang paling diperhatikan oleh masyarakat yang membuat mereka merubah dirinya sendiri tanpa paksaan dengan mencontoh dan mengikutinya. 
Ketiga, agar tidak tersesat di tengah mengelola kebersamaan maka haruslah selalu berkaca dan mengikuti para Nabi dan Rasul dalam bertindak. Karena sudah diterangkan dalam Al Qur’an surat AL Ahzab ayat 21 bahwasanya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan yang baik bagi kita.
Keempat, merefleksi diri agar kita senantiasa tahu kesalahan baik yang sudah kita ketahui maupun yang diketahui orang lain namun belum kita ketahui. Sehingga lewat refleksi kita dapat perbaiki diri kita dan kita mampu menjadi sarana hidayah Allah bagi orang lain di sekitar kita.

Terakhir, setelah menjadi pribadi yang shalih maka mulailah kita saling nasihat menasihati dalam kebenaran untuk menjadikan hidayah Allah itu mengalir pada diri kita dan pada orang-orang yang bersama kita. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap insan untuk membawa perbaikan di masyarakat. Oleh karena itu mari bersama-sama bergerak dan memulai langkah perbaikan dari diri masing-masing. Jika tidak, maka kita termasuk orang yang merugi. Allah berfirman yang artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3).

WALLAHU A’LAM BISSHAWAB

Comments