BULETIN‎ > ‎

Nilai-Nilai Kehidupan Dalam Ritual Qurban

diposting pada tanggal 27 Agt 2017 18.49 oleh Baznas Batam

Nilai-Nilai Kehidupan Dalam Ritual Qurban
Oleh: Drs. Hamzah Johan (Waka I Baznas Kota Batam)

A. PENDAHULUAN
Qurban menurut syariat Islam adalah sesuatu yang disembelih dari binatang ternak yang berupa unta, sapi dan kambing untuk mendekatkan diri kepada Allah yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan Hari Tasyrik. Hari Tasyrik adalah hari ke 11, 12, dan 13 Dzulhijah.
Meskipun terdapat perbedaan dikalangan ulama dalam menetapkan hukum berqurban, yakni ada yang menetapkan “sunnah mu’akkadah” dan ada pula yang menetapkannya “wajib”, namun yang pasti Ibadah Qurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits;
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. Qs.al-Kautsar: 1-3
Diriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda: “Barangsiapa yang memiliki keleluasaan untuk qurban, tapi tidak melakukannya, maka jangan mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad (164-241 H), Ibn Majah (207-275H), al-Daruquthni (305-385 H) dan  al-Hakim (321-405 H).

B. NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM RITUAL QURBAN
Setiap ibadah dalam Islam memiliki nilai-nilai tersendiri, ada yang bernilai kehidupan ilahiyah yakni “hablum minallah”(hubungan dengan Allah) dan yang bernilai kehidupan ijtima’iyah/sosial “hablum minannas” (hubungan dengan manusia) [QS.Ali Imran:112]. Pada ritual qurban melekat kedua nilai tersebut dengan rincian sebagai berikut:

1. Qurban Sebagai Nilai Hablum Minallah
Pada nilai hablum minallah, berqurban menjadi bukti keta'atan seorang hamba kepada Allah SWT. Hal ini dibuktikan oleh nabi Ibrahim AS yang berani mengorbankan anaknya (Ismail) demi menta'ati Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an;
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS Af-Fushshilat:102-107).

2. Qurban Sebagai Nilai Hablum Minannas
Pada nilai hablum minannas, berqurban merupakan nilai ijtima'iyah (sosial) atau juga disebut ibadah sosial. Perlu diketahui bahwa nilai ibadah sosial ini akan mendapat ganjaran 700 kali lipat, sebagamana disinyalir dalam Al-Qur'an:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)
Pada ayat (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261) ini, menjelaskan bahwa menginfakkan harta merupakan bentuk ibadah sosial. Harta bisa dari jenis logam, uang, ternak dsb. Dan hewan qurban termasuk harta yang menjadi infak fi sabilillah yang bernilai ibadah sosial. 
Perlu dicatat bahwa Ibadah Sosial merupakan ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT.
Dalam Kitab Mukasyafatuul Qulub Karya Imam Al Ghazali, dinukilkan cerita Nabi Musa yang menanyakan Ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT;
Nabi Musa as : “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
Allah SWT: “SHOLAT ?...Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
DZIKIR ?... Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.
PUASA ?... Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri”.
Nabi Musa : “Lalu apa yang membuat Engkau senang Ya Allah ?”.
Allah SWT: “SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu.Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262).

C. KEPRIBADIAN HABLUM MINALLAH WA HABLUM MINANNAS

Seorang yang melakukan ibadah qurban memiliki kepribadian hablum minallah wa hablum minannas (hubungan baik dengan Allah dan manusia) disingkat menjadi Kepribadian Hablun. Kepribadian Hablun ini menjadi dambaan bagi setiap orang yang ingin bertaqwa. Namun ketaqwaan itu tidak hanya cukup dengan hubungan vertikal lalu mengabaikan hubungan horizontal, melainkan melakukan perpaduan antara kedua hubungan tersebut.
Dan untuk mencapai Kepribadian Hablun tidaklah mudah, melainkan melalui proses dan langkah-langkahnya, antara kain:

1. TA’LIMUL IBADAH
Yaitu memberikan ilmu-ilmu tentang ibadah qurban dari berbagai sumber rujukan yang mendorong kepada keinginan kuat untuk berqurban.
Dalam hal ini sangat diharapkan para guru agama dan penceramah maksimal menyampaikan Fiqih Qurban baik di sekolah-sekolah, rumah ibadah, kantor dsb; baik melalui medsos, media cetak, dll.

2. SENSITIVITAS SOSIAL
Yaitu memberikan gambaran tentang pentingnya bermasyarakat dan kepedulian sosial (sensitivitas sosial) dengan menunjukkan contoh-contoh keadaan para dhu'afa dan menceritakan dampak negatif jika diabaikan.
Sensitivitas sosial merupakan suatu kebutuhan yang hendaknya dikaji oleh serta diasah oleh setiap orang khususnya generasi pada era teknologi seperti sekarang ini yang menjadikan seseorang terlalu sibuk dengan gadgetnya sehingga kurang adanya kepekaan terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa wilayah pengakuan seseorang ditentukan oleh wilayah berfikirnya, atau selama kita masih mau menyediakan diri kita sendiri untuk memikirkan orang lain maka disanalah letak pengakuan diri kita akan terpatri, namun sebaliknya jika kita hanya memikirkan diri kita sendiri maka jangan harap orang lain mau memikirkan diri kita dan menjadikan bagian dalam kehidupannya, dan inilah substansi dari semangat kepedulian sosial (Social sensitivity) sebagai salah satu tangga mencapai kemenangan tertinggi. Dalam membangun sensitivitas sosial sebagaimana dikemukakan Akhamad Muwafiq Saleh dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Karakter dalam perspektif spiritual” terdapat 5 cara yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: (1) peka dan peduli, (2) bersikap empati terhadap oranglain, (3) jeli dan cermat, (4) memiliki semangat memberi, (5) Dzikir diri dan Dzikir sosial

3. LATIHAN QURBAN
Sejak dini anak-anak dilatih berqurban dengan ikut qurban patungan bersama teman-temannya di sekolah. Latihan seperti itu akan menanamkan sifat ingin berqurban dikemudian hari.
Di berbagai sekolah sekarang di Kota Batam diterapkan Latihan Qurban bagi murid atau wali murid yang belum mampu untuk berqurban seutuhnya. Hal ini akan berdampak positif, bukan hanya membentuk kepribadian hablun tapi juga meningkatkan potensi jumlah qurban dimasa mendatang yang pada gilirannya akan adanya pemerataan gizi masyarakat kecil dan peningkatan kesehatannya.

D. PENUTUP
1. Ibadah qurban melahirkan nilai-nilai kehidupan berupa nilai ketaqwaan dan nilai sosial
2. Ibadah qurban merupakan ibadah sosial yang sangat besar pahala dan manfaatnya.
3. Ibadah qurban membentuk kepribadian hablun (hablum minallah wa hablum minannas), baik hubungannya dengan Allah dan sesama manusia.
4. Untuk membentuk kepribadian hablun diperlukan langka-langah, antara lain ta'limul ibadah, sensitivitas sosial dan latihan qurban.
Wallahu a'lam.




Comments