BULETIN‎ > ‎

Perspektif Qurban

diposting pada tanggal 23 Agt 2017 03.41 oleh Baznas Batam   [ diperbarui23 Agt 2017 03.47 ]
Perspektif Qurban
Oleh : Ir. Moch. Arief
Ketua BAZNAS kota Batam


Sebagai muslim, kita semua meyakini bahwa ajaran Islam itu tinggi dan sempurna, sebagaimana Rasulullah sampaikan Al Islamu yalu wa laa yula(alaihi). Sempurna dari semua sisinya, karena diturunkan oleh Dzat Sang Pembuat Syariat yang Maha Tinggi lagi Sempurna, Alloh SWT.

Demikian juga syariat qurban, tidaklah hanya sebatas penyembelihan hewan qurban (onta, sapi, kambing dan domba) dan dibagi-bagikan kepada karib kerabat serta fakir miskin di hari nahr dan tasyrik (4 hari di bulan Dzulhijjah). Ketinggian dan kesempurnaan qurban sebagai sebuah bentuk perintah, tampak dalam beberapa perspektif berikut :

Perspektif SEJARAH. Perintah qurban merupakan bentuk syariat Islam yang sudah ada semenjak manusia ada. Sebagaimana kisah putra-putra nabi Adam, Qabil dan Habil. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Aku pasti membunuhmu! Berkata Habil: Sesungguhnya Alloh hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS Al-Maaidah 27). Selanjutnya adalah qurban keluarga Ibrahim AS, saat beliau diperintahkan Alloh SWT untuk mengorbankan anaknya, Ismail AS. Disebutkan dalam surat As-Shaaffaat 102: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Kemudian qurban ditetapkan sebagai bagian dari Syariah Islam kepada Nabi Muhammad SAW. “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka (QS. Al-Hajj 34). Jadi qurban merupakan perintah kesejarahan yang telah ada mulai dari nabi Adam hingga Rasulullah SAW dan kita hingga hari akhir (qiyamat).

Perspektif IBADAH. Ritual qurban adalah simbol pengorbanan hamba kepada Alloh SWT, bentuk ketaatan kepada-Nya dan merupakan ibadah yang paling dicintai Alloh SWT di hari Nahr sebagaimana sabda Rasulullah dari Aisyah RA. Tidaklah anak Adam beramal di hari Nahr yang paling dicintai Alloh melebihi menumpahkan darah (berqurban). Qurban itu akan datang di hari Kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah akan cepat sampai di suatu tempat sebelum darah tersebut menetes ke bumi. Maka perbaikilah jiwa dengan berqurban. (HR. At-Tirmizi). Secara definisi qurban diartikan sebagai penyembelihan binatang ternak (onta, sapi, kambing dan domba) di hari-hari Nahr dengan niat mendekatkan diri (taqarruban) kepada Alloh dengan syarat-syarat tertentu. Mengenai hukumnya, menurut jumhur ulama adalah sunnah muaqqadah (sunnah yang sangat ditekankan) sedang menurut mazhab Abu Hanifah adalah wajib. Alloh SWT berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al-Kautsaar: 2). Demikian juga Rasulullah bersabda, “Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Hal ini menunjukkan, pentingnya ibadah qurban. Bagi seorang muslim atau keluarga muslim yang mampu dan memiliki kemudahan, dia sangat dianjurkan untuk berqurban. Kambing untuk satu orang, boleh juga untuk satu keluarga. Karena Rasulullah SAW menyembelih dua kambing, satu untuk beliau dan keluarganya dan satu lagi untuk beliau dan umatnya. Sedangkan unta dan sapi dapat digunakan untuk tujuh orang (al- hadist).
 
Perspektif SOSIAL. Solidaritas sosial sebagai watak syariat Islam juga tampak jelas pada ketentuan pembagian daging qurban, dimana karib kerabat, orang-orang yang tidak berkelapangan diberikan daging qurban, selain juga sebagiannya boleh untuk pe-qurban. “, Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur (QS Al-Hajj 36). Bahkan dalam hal pembagian disunnahkan dibagi tiga. Sepertiga untuk dimakan dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk tetangga dan teman, sepertiga yang lainnya untuk fakir miskin dan orang yang minta-minta. Ibnu Abbas menerangkan qurban Rasulullah SAW bersabda, Sepertiga untuk memberi makan keluarganya, sepertiga untuk para tetangga yang fakir miskin dan sepertiga untuk disedekahkan kepada yang meminta-minta (HR Abu Musa Al-Asfahani). Inilah solidaritas social dalam berqurban.

Perspektif EKONOMI. Dampak dari perintah qurban adalah penyediaan hewan qurban baik unta, sapi, kambing maupun domba. Di Batam saja diperkirakan tahun ini tidak kurang empat ribuan kambing atau domba serta tidak kurang seribuan sapi didatangkan untuk prosesi ibadah qurban. Perkiraan nilai kapitalisasinya diatas tiga puluhan milyar, hanya dalam 4 hari saja yaitu hari idhul adha di tambah 3 hari tasryrik. Keuntungan bersih dari bisnis pengadaan hewan qurban ini tidak kurang dari sepuluh milyar. Ini adalah kesempatan bagi kita kaum muslimin melakukan kebangkitan di bidang ekonomi. Insyaalloh. 


Perspektif NILAI (EDU-VALUES). Banyak nilai-nilai yang terkait dengan ajaran qurban ini agar memberikan maslahat dunia akhirat, diantaranya:
(a).  Kasih sayang. Sekalipun kepada binatang kita diperintahkan untuk menajamkan pisau agar tidak menyakiti binatang tersebut saat disembelih, tidak boleh mengasah pisau dihadapan hewan sembelihan. Merobohkan binatang saat akan disembelih tidak boleh dengan menyakitinya. Ini semua menandakan nilai kasih sayang. Kalau dengan binatang ternak Syariat Islam mengaturnya demikian detail, tentu kepada manusia lebih besar lagi. 
(b). Dermawan tidak kikir, bakhil.  Kikir adalah penyakit yang dibenci dan tercela. Sifat ini menjadikan manusia berupaya untuk selalu mewujudkan ambisinya, egois, cinta hidup di dunia dan suka menumpuk harta serta serakah. Syariat qurban mengajarkan kepada kita semua bahwa apa yang menjadi kecintaan kita terhadap harta benda haruslah tetap mengutamakan kecintaan kepada Alloh SWT.
(c) Kesyukuran. Qurban merupakan bentuk kesyukuran akan nimat Alloh SWT. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (QS. Ad-Dhuhaa : 11).
(d) Ketaqwaan. Qurban adalah bukti ketaqwaan kepada Alloh SWT. Sesungguhnya Alloh hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS Al-Maaidah 27). Karenanya binatang yang akan diqurbankan hendaknya yang paling baik, cukup umur dan tidak boleh cacat. Rasulullah SAW bersabda: “Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban: 1. Cacat matanya, 2. sakit, 3. pincang dan 4. kurus yang tidak berlemak lagi  (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallhualam bisshawab.
Comments